LIFE ADVENTURE

Hidup senantiasa berjalan mengikuti alam yang kian tua .

PERGERAKAN MAHASISWA

Selalu butuh aksi untuk suatu perubahan yang lebih baik.

PRASASTI 010

Terlahir dari Himpunan Mahasiswa Administrasi FISIP UNHAS.

KKN KEBANGSAAN Angkatan I

Inspirasi mempersatukan mahasiswa se-Indonesia untuk pengabdian kepada masyarakat.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 19 Desember 2015

7 TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN


SEVEN TRANSFORMATIONS OF LEADERSHIP
Sebagian besar para psikolog perkembangansetuju bahwa apa yang membedakan pemimpin kebanyakan bukan dari filosofi kepemimpinan mereka, kepribadian mereka, atau gaya manajemen mereka. Tetapi, sebaliknya bahwa itu berasal dariinternal "action logic"(logika tindakan) mereka-bagaimana mereka menafsirkan lingkungan mereka dan bereaksi terhadap tantangankekuasaan atau keselamatan mereka. Bagaimanapun, relatif sedikit dari pemimpin yang mencoba untuk memahami logika tindakan mereka sendiri, dan masih sedikit  yang melakukanpenyelidikan terhadap kemungkinan untuk mengubahnya.
Tujuh Logika Tindakan
Berikut gambaran yang menunjukkan salah satu dari tujuh aksi perkembangan logika tindakan yang terdiri dari The Oportunist, Diplomat, Expert, Achiever, Individualist, Strategist, atau Alchemist. Pemimpin dapat bergerak melalui kategori-kategori ini dalam upayapertumbuhan kemampuan mereka, sehingga dapat dicermati bagaimanaLeadership Development Profile (Profil Pengembangan Kepemimpinan)dalam beberapa tahun kemudian yang bisa mengungkapkan apakah logika tindakan seorang pemimpin telah berkembang.
The Opportunist
Temuan yang paling menghibur adalah bahwa hanya 5% dari para pemimpin dalam sampel kami yang ditandai dengan ketidakpercayaan, egosentrisme, dan manipulativeness. Kami menyebutnya pemimpin ini oportunis, sebuah gelar yang mencerminkan kecenderungan mereka untuk fokus pada kemenangan pribadi saja dan melihat dunia dan orang lain sebagai kesempatan untuk dapat dieksploitasi. Pendekatan mereka ke dunia luar sangat ditentukan oleh persepsi kontrol mereka – dengan kata lain, bagaimana mereka akan bereaksi terhadap suatu peristiwa. Mereka memperlakukan orang lain sebagai objek atau sebagai pesaing yang bukan bagian dari mereka sendiri.
Opportunist cenderung menganggap perilaku buruk mereka sebagai sebuah legitimasi dalam memutus dan menolak tekanan dari dunia yang mengawasinya. Mereka menolak umpan balik, menjelmakan kesalahan, dan membalas dengan cara yang kasar.
The Diplomat
The Diplomatmembuat pemikiran maupun kondisi dunia di sekelilingnya dengan cara yang lebih ramah daripada Oportunis lakukan, tapi logika tindakan ini juga dapat memiliki dampak yang sangat negatif jika pemimpin adalah seorang manajer senior. Setia melayani kelompok, The Diplomat berusaha untuk menyenangkan rekan yang memiliki status yang lebih tinggi sambil menghindari konflik. Logika tindakan ini difokuskan pada memperoleh kontrol dari perilaku mereka sendiri-lebih dari pada mendapatkan kontrol dari kejadian luar atau orang lain. Menurut logika tindakan Diplomat itu, seorang pemimpin memperoleh penerimaan lebih kekal dan pengaruh oleh proses kerjasama dengan norma-norma kelompok dan oleh kemampuan memainkan peran sehari-hari dengan baik.Dalam memainkan peran pendukung atau konteks tim, jenis eksekutif ini memiliki lebih banyak saran atau usul. Diplomat menyediakan perekat sosial untuk rekan-rekan mereka dan memastikan bahwa perhatian dibayar untuk kebutuhan orang lain, yang memungkinkan mengapa sebagian besar diplomat bekerja di anak tangga paling junior dari manajemen, dalam konteks pekerjaan seperti pengawas garis depan (frontliner supervisor), perwakilan layanan pelanggan, atau praktisi perawat.
Diplomat akan lebih bermasalah dalam peran kepemimpinan tingkat atas karena mereka mencoba untuk mengabaikan konflik. Mereka cenderung terlalu sopan dan ramah dan merasa hampir tidak mungkin untuk memberikan umpan balik menantang kepada orang lain. Melakukan perubahan, dengan konflik yang tak terelakkan, merupakan ancaman besar bagi Diplomat, dan ia akan menghindarinya jika mungkin, bahkan ke titik penghancuran diri.
The Expert
Kategori terbesar dari pemimpin adalah The Expert yang jumlahnya 38% dari semua profesional dalam sampel kami. Berbeda dengan The Opportunist, yang fokus untuk mencoba mengendalikan dunia di sekitar mereka, dan The Diplomat yang berkonsentrasi pada mengendalikan perilaku mereka sendiri, The Expert mencoba untuk melakukan kontrol dengan menyempurnakan pengetahuan mereka, baik dalam kehidupan profesional dan pribadi mereka.Tak heran, banyak akuntan, analis investasi, peneliti pemasaran, insinyur perangkat lunak, dan konsultan beroperasi dari pada Logika tindakan Expert.The Expert adalah kontributor individu besar dikarenakan mereka mengejar kemajuan secara terus-menerus, efisiensi, dan kesempurnaan. Tapi sebagai manajer, mereka dapat menjadi masalah karena mereka begitu benar-benar yakin bahwa mereka benar. The Expert cenderung melihat kolaborasi sebagai hal yang buang-buang waktu ("Tidak semua pertemuan adalah buang-buang waktu-beberapa dibatalkan!"), Dan mereka sering memperlakukan pendapat dari orang yang kurang ahli dari diri mereka dengan penghinaan. Kecerdasan emosional yang tidak diinginkan atau dihargai.
The Achiever
The Achiever adalah seorang manajer yang mampu menciptakan sebuah tim dan suasana antar departemen yang positif. Kabar baiknya adalah bahwa sebagian besar, 30%, dari manajer dalam penelitian kami diukur sebagai The Achievers. Sementara itu, para pemimpin ini menciptakan lingkungan kerja yang positif dan memfokuskan upaya mereka dalam memberikan proses pengembangan, sisi negatifnya adalah bahwa gaya mereka sering menghambat berpikir di luar kotak.
The Achievers  memiliki pemahaman yang lebih kompleks dan terintegrasi dari dunia daripada manajer yang menampilkan tiga logika tindakan sebelumnya. Mereka terbuka untuk umpan balik dan menyadari bahwa banyak dari ambiguitas dan konflik dalam kehidupan sehari-haridikarenakan perbedaan interpretasi dan cara berhubungan. Mereka tahu bahwa transformasi kreatif atau menyelesaikan perselisihan membutuhkan kepekaan terhadap hubungan dan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif. Achievers juga dapat diandalkan memimpin tim untuk menerapkan strategi baru selama periode satu sampai tiga tahun, menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan panjang.


The Individualist
Logika Tindakan The Individualist mengakui bahwa tidak ada dari logika tindakan lainnya yang "alami"; semua merupakan konstruksi dari diri sendiri dan dunia. Ide abstrak ini tampaknya memungkinkan 10% dari para pemimpin Individualist untuk berkontribusi pada nilai praktis yang unik untuk organisasi mereka; mereka menempatkan kepribadian dan cara berhubungan dalam perspektif dan berkomunikasi dengan baik dengan orang lain yang memiliki logika tindakan. Apa yang membuat individualist terpisah dari Achievers adalah kesadaran mereka dari kemungkinan konflik antara prinsip-prinsip mereka dan tindakan mereka, atau antara nilai-nilai organisasi dan implementasi dari nilai-nilai. Konflik ini menjadi sumber ketegangan, kreativitas, dan keinginan yang berkembang untuk pengembangan lebih lanjut.Individualis juga cenderung mengabaikan aturan yang mereka anggap tidak relevan, yang sering membuat sumber gangguan terhadap rekan maupun atasan.
The Strategist
The Strategisthanya 4% dari pemimpin. Apa yang membedakan mereka dari individualist adalah fokus mereka pada kendala-kendala organisasi dan persepsi, yang manadilakukannya sebagai proses perundingan dan transformasi. The Strategist juga mahir menciptakan visi bersama di berbagai tindakan logika-visi yang mendorong transformasi pribadi dan organisasi. Menurut Logika Tindakan The Strategist, perubahan organisasi dan sosial merupakan proses perkembangan berulang yang memerlukan kesadaran dan perhatian kepemimpinan.Dalam upaya menangani konflik The Strategist akan lebih menyenangkan daripada logika tindakan lainnya, dan mereka sangat baik dalam menangani penolakan naluriahseseorang untuk dapat berubah. Akibatnya, The Strategist merupakan agen perubahan yang sangat efektif.
The Strategist biasanya memiliki ide bisnis yang sadar lingkungan sosial yang dilakukan dengan cara yang sangat kolaboratif. Mereka secara bersama-sama berusaha untuk merangkai visi idealis dengan pragmatis, tepat waktu dan prinsip bertindak. The Strategist bekerja untuk menciptakan prinsip-prinsip dan praktek etika melampaui kepentingan dirinya atau organisasinya.
The Alchemist
Logika tindakan kepemimpinan yang terakhir sesuai data dan pengalaman adalah The Alchemist. Studi kami dari beberapa pemimpin kita telah diidentifikasikan sebagai The Alchemist menunjukkan bahwa apa yang membedakan mereka dari The strategist adalah kemampuan mereka untuk memperbaharui atau bahkan menemukan kembali diri mereka sendiri dan organisasi mereka dalam alur yang sangat penting. Sebaliknya, The Strategist akan bergerak dari satu keterlibatan atau situasike yang lain secara bertahap, namun The Alchemist memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menangani secara bersamaan dalam banyak situasi di berbagai tingkatan. The Alchemist dapat berbicara dengan keduanya yakni raja dan rakyat jelata. Dia bisa menangani prioritas dengan segera mungkin tanpa pernah melupakan tujuan jangka panjang.
The Alchemist adalah individu karismatik dan sangat sadar akan perlunya kehidupan dengan standar moral yang tinggi. Mereka sangat fokus pada kebenaran. Memungkinkan bahwa yangterpenting, mereka dapat menangkap momen unik dalam perjalanan organisasi mereka, menciptakan simbol dan metafora yang dapat berbicara dengan hati dan pikiran orang.

TIPE
KARAKTERISTIK
KEKUATAN
KELEMAHAN
Opportunist
Memenangkan apapun dengan apapun kemungkinan jalan yang ada
Berorientasi pada diri sendiri
Manipulatif ; “membuat semuanya benar”
Baik untuk kondisi darurat dan pengejaran target penjualan
Hanya sedikit orang yang ingin mengikuti mereka untuk jangka panjang.

Diplomat
Menghindari konflik. Ingin milik;
Taat terhadap norma-norma kelompok;
tidak mengayun-ayun kapal

Mendukung kerekatan hubungan dalam tim
Tidak dapat memberikan umpan balik yang baik atau membuat keputusan sulit yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja.
Expert
Aturan dengan logika dan keahlian.
Sulit untuk mendapatkan consensus dan buy-in
Kontribusi individual sangat baik
Tidak memiliki kecerdasan emosional; tidak memiliki rasa hormat terhadap mereka yang keahliannya kurang.
Achiever
Memenuhi tujuan strategis.
Mempromosikan kerja sama tim; memilih tugas manajerial dan merespon permintaan pasar untuk mencapai tujuan
Sangat cocok untuk pekerjaan manajerial
Menghalangi pemikiran-pemikiran yang inovatif

Individualist
Beroperasi dengan cara yang tidak konvensional.
Mengabaikan aturan yang ia anggap tidak relevan
Efektif dalam usaha dan peran sebagai konsultasi
Mengganggu rekan kerja  dan atasan dikarenakanpengabaian proses kunci organisasi dan orang-orang.
Strategist
Menghasilkan perubahan organisasi dan individu. Sangat kolaboratif; menjalin visi dengan pragmatis, inisiatif akan waktu; menantang asumsi yang tersedia.
Menghasilkan transformasi dalam jangka pendek dan panjang.
Tidak Ada
Alchemist
Menghasilkan transformasi sosial (misalnya, Nelson Mandela). Mengusung kembali organisasi yang berarti atau bermakna sesuai perjalanan organisasi
Memimpin perubahan masyarakat kearah yang lebih luas
Tidak ada

Melakukan Evolusi sebagai Pemimpin
Hal yang paling luar biasa – dan membakar semangat – dari hasil penelitian kami adalah pemimpin dapat mengalami perubahan, dari sebuah logika tindakan ke logika tindakan yang lain. Kami telah mendokumentasikan beberapa pemimpin yang berhasil merubah diri mereka dari Experts menjadi Achiever, dari Achiever menjadi Individualist, dan dari Individualist menjadi Strategist.
Ada beberapa hal yang dapat mendorong seorang pemimpin untuk merubah logika tindakan mereka, yang pertama ialah kesadaran dari pemimpin itu sendiri. Saat seorang pemimpin merasa perlu untuk merubah diri mereka – dan logika tindakannya – mereka akan mencari cara yang dapat membimbing mereka. Salah satu dari cara tersebut ialah dengan mencari sebuah kelompok yang terdiri dari pemimpin-pemimpin dengan logika tindakan di atas mereka. Sehingga kelompok tersebut akan membimbing dan memberikan arahan mengenai bagaimana mestinya seorang pemimpin bertindak.
Kedua, hal yang dapat mendorong seorang pemimpin untuk merubah logika tindakan mereka, adalah pengaruh lingkungan. Dalam hal ini, kita contohkan promosi jabatan. Melalui promosi jabatan, seorang pemimpin dapat mengalami sendiri apa yang dialami oleh atasannya sebelumnya. Sehingga dia dapat merasakan apa yang tadinya dia rasa sebagai sesuatu yang janggal. Kebanyakan seorang Expert dapat ber-evolusi menjadi Achiever dengan cara seperti ini. Seorang Expert yang tadinya memiliki ego tinggi dan hanya memperhatikan hal yang menjadi keahliannya, akan terpaksa untuk memiliki pandangan yang lebih luas mengenai suatu permasalahan. Sehingga mereka akan terdorong dan diharuskan untuk mengesampingkan ego mereka untuk mencapai target yang lebih besar.
Terakhir, intervensi perkembangan yang direncanakan dan terstruktur. Hal ini dapat dilakukan oleh perusahaan yang merasa perlu mengembangkan logika tindakan dari jajaran pimpinan yang dimilikinya. Disini, perusahaan harus jeli dalam menilai logika tindakan dari pimpinan yang dimilikinya, sehingga dapat membuat perencanaan untuk mengembangkan kepemimpinan mereka demi kemajuan perusahaan.
Lebih spesifik mengenai perubahan dari sebuah logika tindakan ke logika tindakan lain akan dijelaskan sebagai berikut.
Dari Expert menuju Achiever
Perubahan ini merupakan perubahan yang paling sering diamati dan dilakukan diantara para praktisi bisnis dan mereka yang mempelajari mengenai manajemen dan eksekutif. Dalam beberapa generasi sekarang ini, banyak perusahaan besar yang membentuk departemen pelatihan untuk mendukung perkembangan dari para manajernya, dengan program-program seperti “Management by Objectives”, “Effective Delegation”, dan “Managing People for Results”. Program-program ini biasanya mendorong untuk mendapatkan hasil melalui strategi yang fleksibel dibanding menggunakan metode yang biasa digunakan para manajer itu.
Para pengamat pemimpin dan pelatih eksekutif juga dapat memformulasikan latihan – latihan yang terstruktur dan pertanyaan yang berhubungan dengan pekerjaan untuk membantu Expert menyadari tentang asumsi – asumsi yang berbeda antara dirinya dan orang lain. Hal ini dapat membantu Expert untuk meningkatkan kemampuannya dalam memimpin, dan diharapkan dapat mendorongnya menjadi Achiever, yang memiliki kompetensi seperti mencapai hasil dalam jangka waktu tertentu, kemampuan untuk mengatur performa, dan kemampuan untuk menerapkan prioritas strategi.
Terdapat banyak sekali Expert yang harus tinggal melakukan tugas manajerial rutin, karena keahlian mereka di bidang tersebut. Tantangan mereka ialah untuk dapat menjadi Achiever yang jauh lebih efektif dalam bekerja menggunakan keahlian mereka yang mendalam untuk dapat sukses sebagai pemimpin dan manajer.
Dari Achiever menuju Individualist
Meskipun organisasi dan sekolah bisnis telah cukup sukses dalam mengembangkan pemimpin dengan logika tindakan Achiever, mereka masih kurang mengakui ataupun mendorong para pemimpin untuk menuju logika tindakan Individualist maupun Strategist, apalagi Alchemist. Hal ini dikarenakan di banyak perusahaan menganggap bahwa Achiever merupakan tujuan akhir, yang dengan efektifitas dan kinerjanya merupakan hal yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Perkembangan pemimpin dengan logika tindakan diatas Achiever membutuhkan hal-hal yang sangat berbeda dari yang dilakukan saat Expert menuju Achiever. Intervensi untuk menumbuhkan kesadaran diri sebagai pemimpin yang bertransformasi sebagaimana kesadaran terhadap pandangan dunia. Achiever selalu menggunakan hasil penyelidikan untuk menentukan apakah mereka (Tim dan organisasinya) berhasil mencapai tujuan mereka dan bagaimana cara untuk mencapainya dengan lebih efektif. Sedangkan pengembangan Individualist dimulai penyelidikan dengan merefleksikan pada diri mereka sendiri – dengan tujuan untuk meningkatkan sasaran di masa depan. Perencanaan perkembangan tahunan harus dibuat dengan sasaran – sasaran baru, yang terbentuk melalui probing dan percakapan mendalam, yang dapat didukung secara aktif melalui pelatihan eksekutif dan review di akhir masa pelatihan merupakan poin – poin pendukung yang dibutuhkan. Namun tidak banyak CEO maupun lembaga yang dapat menghargai investasi ini, dan investasi semacam ini sangat mudah untuk dikesampingkan bila menghadapi tantangan jangka pendek yang menurut pemimpin dengan logika tindakan yang kurang dikembangkan, merupakan hal yang sangat penting.
Intinya, dalam mengembangkan logika tindakan Individualist, bukanlah dengan mengajarkan hal yang rutin kepada CEO, tetapi bagaimana membuat mereka nyaman dengan cara Individualist melihat dan memahami dunia di sekitarnya dan apa hal – hal yang dapat meningkatkan motivasinya untuk belajar lebih jauh. Eksperimen semacam ini dapat sedikit demi sedikit mengurangi ketakutan dari mempelajari tentang perubahan.
Menuju Strategist dan Seterusnya
Pemimpin yang menuju logika tindakan Strategist dan Alchemist tidak lagi mencari keahlian pribadi yang dapat membuat mereka lebih efektif dalam organisasi mereka. Mereka telah menguasai banyak keahlian tersebut. Mereka akan menjelajahi disiplin ilmu dan komitmen yang berlanjut pada pembuatan proyek, tim, jaringan, aliansi strategis dan seluruh organisasi sebagai dasar dalam penyelidikan kolaboratif. Ini merupakan praktek berkelanjutan yang membuat perusahaan mereka sangat sukses.
Jalur yang harus ditempuh oleh mereka yang ingin berkembang menjadi Strategist dan Alchemist tidaklah sama dengan mengembangkan logika tindakan yang lain. Dimulai dari pencarian mentor, mereka tidak lagi mencari mentor untuk mengasah keahlian mereka dan mengarahkan pada jaringan yang berpengaruh. Mereka lebih mengarah pada pencarian anggota yang sudah ada dalam jaringan mereka, untuk meningkatkan komunitas orang-orang yang dapat menyanggah pendapat maupun asumsi dan tindakan dari kepemimpinannya. Hal ini dikarenakan bagi pemimpin seperti ini, sulit untuk mencari orang yang dapat mengemukakan pendapat kepadanya secara terbuka. Sehingga, saat seorang pemimpin mulai mencari hal yang demikian, dapat kita simpulkan bahwa ia sedang mencoba menjadi seorang Strategist ataupun Alchemist.
Pendidikan formal dan proses perkembangan juga dapat membimbing seseorang menuju logika tindakan Strategist. Program – program ini akan membuat partisipan berperan sebagai pemimpin dan memberikan tantangan – tantangan mengenai asumsi – asumsi konvensional mereka mengenai kepemimpinan dan organisasi sangatlah efektif. Program ini akan menanamkan kewaspadaan dari para partisipan, selalu menyediakan gangguan yang mengejutkan yang menyadarkan mereka untuk memahami ulang mengenai pandangan mereka terhadap dunia.
Tim Kepemimpinan dan Budaya Kepemimpinan dalam Organisasi
Dalam jangka panjang, tim yang paling efektif ialah mereka dengan budaya Strategist, dimana kelompok melihat tantangan bisnis sebagai kesempatan untuk berkembang dan belajar sebagai individu maupun organisasi. Dalam sebuah organisasi yang diteliti, beberapa manajer diundang dari berbagai departemen untuk berpartisipasi dalam sebuah tim baru. Karena terlihat sebagai gangguan, maka hanya sedikit manajer yang bersedia bergabung, kecuali beberapa Individualist dan calon Strategist. Kemudian, dengan bantuan dukungan dari manajemen senior, tim tersebut sukses, dan para partisipan mendapat promosi dan memimpin tim gabungan sendiri. Para Achiever dalam organisasi melihat hal tersebut sebagai kesempatan dan mulai ikut berkontribusi. Sehingga semakin lama, semakin banyak yang ikut berpartisipasi, dan berbagi kepemimpinan, saling bertukar pendapat mengenai praktek dan asumsi, dan tantangan individual yang mengembangkan bakat kepemimpinan mereka.
Sayangnya, hanya sedikit organisasi yang mau melakukan hal ini dalam organisasinya. Kebanyakan tim manajer senior memiliki logika tindakan Achiever – yang selalu berupaya untuk mendapat hasil seefektif mungkin, sehingga enggan untuk berhenti sejenak untuk merefleksikan apa yang ada pada diri mereka maupun sekitar. Namun akan lebih berbahaya jika dalam perusahaan besar, dimana tim manajer senior menggunakan logika tindakan Experts. Disini mereka akan melihat diri mereka sebagai kepala dan tim mereka sebagai formalitas sarana pemberi informasi. Akan sulit untuk saling berbagi pengalaman dan cara menguraikan masalah, pengambilan keputusan maupun usaha untuk memformulasikan strategi. Ditambah tim senior yang terbatas dengan logika tindakan Diplomat, akan menjadi sangat tidak fungsional.
Sebuah tim Individualist, yang biasa ditemui di usaha kreatif, sangatlah jarang ditemui, dan sangat berbeda dibanding tim Achiever, Expert maupun Diplomats. Mereka akan sangat sering merefleksikan tujuan mereka, menyamakan asumsi dan praktek di lapangan. Namun karena itulah, mereka akan kesulitan dalam mengambil keputusan secara cepat.
Sebagaimana individu, sebuah tim juga dapat bertransformasi menjadi lebih baik. Untuk mencapai hal itu, dibutuhkan kerjasama dari pihak perusahaan dan dari dalam tim itu sendiri. Dan perusahaan harus tegas dalam menyingkirkan individu – individu yang tidak memiliki motivasi untuk berubah ke arah yang lebih baik tersebut, karena dapat menghambat pertumbuhan dalam tim itu sendiri.

Kamis, 04 Juni 2015

MAKNA PENGKADERAN


Semua yang ada di dunia bergerak mengikuti proses begitu juga dengan KAMI.
Alam terseleksi melalui evolusi
Manusia berproses dengan regenerasi

Sebuah keharusan yang terjadi pada seluruh makhluk hidup bahwa semua yang dijalani akan mengarah pada kematian sebagai titik akhir berhentinya proses. Pemaknaan akan proses sangat penting guna menjaga eksistensi gerak dalam mencapai sebuah tujuan. Adanya dinamika yang terus berjalan mengajarkan seseorang sebuah arti "survive" dalam melihat persoalan yang semakin kompleks. Dunia kini tidak lagi sama, bumi semakin tua, manusia semakin serakah, bahkan kita pun tak lagi saling menoleh. Butuh perhatian kecil saat ini sehingga semua dari kita akan tersadar untuk saling menjaga dan membesarkan satu sama lain.

Manusia tercipta sebagai insan cerdas, dilengkapi indera yang lengkap dengan fungsi sempurna membuat kita berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Senantiasa berfikir dengan fungsi otak dan bukan dengan naluri insting. Manusia terlahir untuk berbuat kebaikan dan bukan keburukan. Hal nyata bahwa kebaikan bukan hanya milik satu orang namun semua orang. Kamu menghidari manusia lain sama saja membawa diri ikut terseleksi dalam proses. Maka dari itu, butuh sebuah pemahaman untuk menyadarkan orang lain sehingga kebaikan akan tercipta, orang mampu hidup dengan adaptasi sempurna dan konsep manusia dapat diterapkan sepenuhnya. 

Pengkaderan sebagai sebuah metode proses memiliki banyak makna. Pengkaderan bermakna pembentukan mental didik, pembentukan karakter, tranformasi nilai dan pengetahuan dan juga bermakna upaya regenerasi. Namun dibalik banyak makna yang dimiliki tentunya ada satu kesamaan yang melekat sebagai substansi utama yakni pengkaderan dilakukan sebagai bentuk adaptasi untuk menghadapi dunia baru. Ketika kamu menghadapi dunia bisnis maka kamu akan terkader sebagai bisnisman. Ketika kamu menghadapi dunia militer maka kamu akan terkader sebagai manusia yang kuat dan tegas. Begitu pula dalam dunia kampus/kemahasiswaan, kamu akan terkader sebagai orang harus paham akan nilai hidup dalam bermasyarakat dan berbangsa. Itulah makna proses dalam wadah, senantiasa perlu penyesuaian untuk dapat menguasai lingkungan. Wadah yang dimaksud dalam hal ini adalah "organisasi".

Analogi kayu dalam api unggun bahwa kayu berperan penting untuk membuat api tetap menyala, kehabisan kayu akan menghambat terciptanya api lebih baik dan bahkan akan membuat  semuanya padan hingga gelap. Sama halnya dalam organisasi, proses regenerasi memiliki peran penting dalam kelangsungan organisasi, bila proses regenerasi tersebut terhambat maka proses berjalannya organisasasi tidak akan baik. Dalam dunia kemahasiswaan proses regenerasi atau yang distilahkan sebagai pengkaderan merupakan jantung organisasi. Keberlangsungan dan keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh tingginya kualitas kader. Kader yang dimaksud adalah mereka yang menjalankan roda organisasi secara berkala dan mereka pula lah yang berinteraksi satu sama lain untuk mengasilkan sebuah proses yang dinamakan proses pengaderan.

Proses pengaderan secara tampilan merupakan hasil interaksi antara pengkader dengan kader ataupun calon kader. Pengetahuan adalah barang bebas yang sewaktu-waktu dapat ditransformasikan dalam ruang pengkaderan. Secara umum, proses pengaderan memuat berbagai muatan mulai dari aspek afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Aspek afektif berkaitan dengan aspek pemenuhan nilai maupun sikap yang bertujuan untuk pembentukan mental karakter dalam bermahasiswa. Dalam kehidupan mahasiswa, sikap sebagai pondasi dasar berprilaku perlu ditanamkan sebagai upaya untuk saling menghargai antara yang muda dengan yang lebih tua dan dalam kehidupan bermasyarakat pun seperti itu. Aspek Kognitif berkaitan dengan kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual. Status mahasiswa mengharuskan seseorang paham bahwa ia harus memilki keunggulan pengetahuan dibanding masyarakat luar, karena dalam segi fungsi mahasiswa merupakan penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Malu rasanya ketika dengan label mahasiswa namun tidak punya pengetahuan apapun. Aspek Psikomotorik berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak. Mahasiswa yang hanya tahu bicara tapi tidak berketerampilan atau bertindak sama saja dengan layar tv atau radio. Kemampuan untuk merealisasikan dalam tindakan sangat penting untuk aplikasi lapangan terutama dalam pengabdian kepada masyarakat. 

Dalam pengkaderan semua sangat teratur dan sistematis. Hal ini dilakukan dalam upaya menghasilkan regenerasi dengan kualitas diatas rata-rata. Semua individu yang terlibat dalam proses memiliki pemikiran masing-masing, namun dengan wadah pengaderan pemikiran atau kepentingan itu kemudian bersatu (mind share) sehingga menghasilkan problem solving. Makna pengkaderan perlu dilekatkan kepada masing-masing individu sebagai upaya bersama untuk menciptakan kader untuk organisasi. Secara tertulis, biasanya termuat dalam Konsep Pengaderan pada Lokakarya. 
Layaknya sebuah sebuah pepatah yang mengatakan semakin tinggi pohon semakin keras hempasan angin yang menerpanya. Makna kutipan ini sebenarnya sering terjadi dalam pengkaderan kemhasiswaan. Metode yang beragam terkadang membuat beberapa pihak tertentu kerapkali resisten terhadap kegiatan yang dilakukan. Upaya pengembangan karakter yang dilakukan sering disalahartikan menjadi sebuah pemaknaan negatif yang mengarah pada tindakan perpeloncohan ataupun kekerasan fisik semata. Namun, stigma negative yang muncul tentang pengkaderan tidak akan menghentikan proses yang ada, karena secara sadar pengakaderan bukan seperti hal yang digosipkan banyak orang melainkan sesuatu doktrin pemahaman untuk menghadapi dunia baru dimana didalamnya terdapat orang-orang merdeka dengan ideology Indonesia. Cerminan anarkis yang banyak dikabarkan media, bukan cerminan hasil dari proses pengkaderan, namun cerminan sesungguhnya yakni bagaimana saling menjaga dalam sebuah keluarga kecil.

Pada dasarnya bahwa proses regenerasi menuntun seseorang pada dimensi kepemimpinan. Membuka jiwa seseorang bahwa semua orang berhak memimpin, semua orang berhak atas pendapat, semua orang berhak atas lingkungannya dan semua orang berhak atas negaranya, yang tentunya semua itu sesuai dengan landasan dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Pengkaderan bukan sebuah drama dimana seseorang berusaha menjadi seolah-olah, namun yang terpenting dalam sebuah proses terdapat keyakinan dalam diri bahwa lakon yang saya mainkan adalah diri saya sendiri yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Pemikiran seorang pengkader yang ditanamkan kepada kader bukan semata-mata agar pemikiran kader sama dengan pengkader, namun terlebih kepada bagaimana pemikiran tersebut mengantarkan kader kepada kebebasan berfikirnya.

------to be continue -----








Minggu, 31 Mei 2015

CAFE SENJA

Cafe Senja... Cafe Senja...cafe halaman rumahku

Sepenggal karya selalu terlahir dalam nuansa senja di halaman rumahku. Julukan itu muncul tatkala kami (penghuni rumah R43 Perdos UNHAS) mendendangkan lagu dengan lirik cafe senja. Entah sengaja atau tidak namun kata ini sesuai dengan suasana yang ada. Cerita demi cerita yang muncul pertanda kami sadar akan kekurangan dan kelebihan sehingga aku butuh kau dan kau butuh aku. 
Setiap hari, dengan modal seadanya, sebatang lisong hingga segelas kopi mengantar kami dalam dunia dimana curahan pikiran yang menjadi senjata. Dari kisah yang warnanya hitam hingga cerita yang warnanya pink. Walaupun tampak konyol namun sesekali kekonyolan itu yang membuat kami tersenyum dan menghilangkan sejenak beban pikiran yang melekat. Karya pun banyak kami hasilkan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Kami sadar daya cipta yang baik akan muncul dari suasana yang baik pula. 
Untuk beberapa bulan kedepan mungkin suasana ini tidak lagi ada. Kami punya jalan masing-masing dan tentunya punya impian yang akan digapai. Itu tidak di cafe senja. Tempat ini hanya medan transisi untuk memikirkan cara terbaik untuk meraih semua impian. Semua ini adalah teka teki yang belum diketahui, tapi setidaknya hari ini, kami punya inisiatif itu. 

Cafe Senja... Cafe Senja...cafe halaman rumahku

MELUPA NAMUN TERLUPA


Sajak malam hari selalu bercerita
Situasi dimana kejujuran bisa hadir
Entah pagi ada bohong
Siang dan sore ikut berbohong
namun malam tak bisa bohong dan melupa
karena dia jujur 

Tiba-tiba hendak diri untuk melupa
namun diri ini terlupa
Hendak diri untuk melupa
namun hanya luapan resah yang banjir dalam pikiran
Alih-alih mencoba untuk segaja membenci
namun diri ini terlupa
bahwa aku tidak bisa melupa

Diri ini membenci aku
Bahkan semesta ikut membenci aku
alam sadar tak lagi sadar
karena semuanya ikut berdendang
Dendang yang bunyinya sama
ketika diri masih sedang bersamanya

 Masih aku harus mencoba melupa
ketika diri masih ingin berjuang
hingga kontradiksi kian membesar
dan karakter terus berpindah
terdampar pada pulau kosong
dimana hanya diri yang bercermin dengan aku 

Wahai pemilik semesta
bukalah pintu dimana aku hendak melihat solusi
diri lelah melihat cobaan yang diberikan kepada aku
jangan pertentangkan diriku dan aku
karena saya adalah satu
diriku itu adalah aku
akupun adalah diriku


Itulah cerita dalam pemahaman yang terkunci
hendak melupa namun terlupa

Kamis, 22 Januari 2015

BANGSA POST-MATERI

BANGSA POST-MATERI
Engkau sadar, kini bangsamu menampilkan ekspresi kekuasaan modern.
Pilihan menjadi sejahtera adalah dambaan semua negara. Wacana eksklusif mengenai kajian dunia negara maju, negara berkembang, negara terbelakang maupun negara kesejahteraan (middleway) menjadi sebuah ironi dimana semua negara berlomba-lomba menampilkan parodi gerak kearah negara dengan pembangunan kelas atas.  Praktik humanistik tidak dilihat lagi sebagai unsur pembangunan namun berfokus pada orientasi materi sebagai wujud nyata mainstream terbaru. Bentuk kekuasaan modern ini telah memperlihatkan kemewahan yang mendorong politik transaksional.
Kondisi Indonesia dewasa ini, telah memperlihatkan diri sebagai cerminan bangsa yang terjebak dalam dunia materi. Mata hati telah disulap dengan mata uang yang kemudian mengubah cara pandang bangsa terhadap ideologi negara dan juga mempengaruhi people work oriented. Pertama, manusia bekerja dikatakan sebagai hal yang dilakukan hanya untuk memperoleh sesuap nasi dan pemenuhan kebutuhan perut. Kedua, manusia bekerja untuk status, memenuhi status masyarakat agar tidak dikatakan sebagai penganggur. Ketiga, manusia bekerja sebagai sebuah ibadah, dan kewajiban akan tujuan dari cita-cita bersama. Secara empirik, fenomena kerja yang terjadi di Indonesia dominan berada pada kualifikasi satu dan dua, sedangkan untuk kualifikasi ketiga manusia cenderung mengabaikan sebagai sebuah kebutuhan bersama. Apalagai dalam praktik pelaksanaan kekuasaan politik yang terfokus pada the process of political interaction.
Fakta sebagai negara ego materi telah memberikan rantai baru dinamika masyarakat Indoensia. Opini wacana dengan mudah digiring mengikuti kemauan penguasa mata uang. Tercatat hampir seluruh media swasta cetak, elektronik maupun online dimiliki oleh elit partai bahkan ketua partai, dewan partai, dan bahkan menteri. Sehingga wacana yang berkembang akan mengikuti kemauan dari para konglomerasi pemilik media tanpa mempertimbangkan pentingnya muatan wacana yang dilemparkan. Media kemudian menjelma sebagai kekuatan yang bahkan melebihi pemerintah dalam mengubah opini publik untuk kepentingan rating. Gagasan Giddens akan modernitas akhir hanya sebuah utopis. Civil Society kini lebih mudah dijadikan oposisi penentang kebijakan, karena yang berkuasa ialah pemillik media, oknum tunggal sang pemilik mata uang.
 Data yang sempat dijadikan kabar gembira bagi Indonesia dengan diprediksinya Indonesia menjadi 10 kekuatan baru dunia kedepan dengan melihat perkembangan jumlah orang kaya di Indonesia yang bersaing dengan negara maju sekelas Rusia di tahun 2011. Adapun orang mapan dengan penghasilan Rp. 240-500 Juta per tahun mencapai 4 juta orang yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-4 Asia. Namun lagi-lagi, elit bangsa kita terjebak pada dunia angka-angka yang bertopang pada kekuasaan materi. Nuansa negara bukan dijadikan sebagai aktivitas menuju kesejahteraan rakyat namun lebih terasa kearah kumulasi kapital. Jumlah penduduk yang melimpah hanya dijadikan sebagai alat menakut-nakuti negara lain dengan anggapan bahwa  jumlah penduduk besar tentunya Indonesia memliliki daya konsumtif tinggi yang menarik negara lain untuk menjalin mitra dengan Indonesia.    
Dimensi kekuasaan demokrasi pun ikut tergerus kuatnya arus materi. Panggung para sejumlah entitas demokrasi tidak lagi dijadikan sebagai media penyambung aspirasi rakyat. Bilik suara pada pesta pemilu berubah menjadi bilik bercinta para pemilik kepentingan yang tentunya berkantung uang. Pendidikan politik yang seharusnya diajarkan kepada masyarakat hanya membiasakan masyarakat terjebak dalam money politic. Otonomi daerah sebagai wujud pencapaian democratic value yakni terjadinya kemandirian berubah menjadi otonomi politik dimana terjadi tarik-menarik kepentingan politik antara pusat dan daerah. Kepala Daerah didesain sebagai perwakilan pimpinan partai dengan mengutamakan kepentingan partai bukan sebagai perwakilan pimpinan rakyat didaerah yang mengutamakan kepentingan rakyat. Praktik ini, yang seharusnya mendorong political will yang lebih baik yang tidak mengutamakan urusan individu serta regulasi yang lebih matang yang berwujud keadilan sosial.
Sektor jasa pembangunan kualitas manusia yakni pendidikan yang seharusnya menjadi penopang karakter bangsa ikut diperjualbelikan. Anak bangsa tidak lagi tersenyum mendengar kabar telah dibuka sekolah baru, namun berlomba ongkahkan kaki lari meninggalkan sekolah. Tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dalam UUD 1945 hanyalah sebuah angan karena kehidupan kecerdasan hanya mampu dinikmati oleh mereka yang bermateri. Kurikulum tumpang tindih mengikuti kepentingan politik. Anak didik hanya mendengarkan tanpa bisa berbicara karena pendidiknya telah dibungkam oleh selembar kertas. Pendidikan di komersialisasikan mengikuti arus global, tujuan Paolo Freire akan pendidikan membebaskan kini membelenggu.
Masyarakat digiring berkonflik bak boneka mengikuti kepentingan sang majikan hanya demi mengaburkan suatu wacana lain. Premanisme hadir sebagai suatu kebutuhan penting elit-elit penguasa. Aparat keamanan menjadi tontonan dalam memerankan drama pemberantasan preman demi sebuah republik rekayasa. Hak Asasi Manusia bukan bagian dari Manusia yang perlu dipertimbangkan.  Hukum tumpul ke atas dan tajam kebawah kata seorang penyair, toh uang akan mengikuti arah gravitasi.  Materi menjadi panglima sebagai wujud kekuasaan modern.
Terekan pula dalam catatan, praktik mega proyek Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan investasi ratusan hingga ribuan trilliun dengan fokus peningkatan pembangunan ekonomi. Namun praktik yang ada belum benar-benar seluruhnya menjadikan manusia sebagai objek pembenahan tetapi hanya berorintasi pada pembangunan fisik bukan memanusiakan manusia dalam keberadaban. Cita-cita bangsa dalam pancasila bukanlah hal yang memandang materi sebagai fokus utama, namun lebih memperhatikan dimensi kemanusiaan dari rakyat.  Pembangunan wilayah bukan sekedar aspek kumulasi kapital, tapi pembentukan watak penghuninya yang sesuai dengan karakter kemanusiaan.
Bangsa yang ramah, serta berdabad itulah diharapkan sebagai satu idea yang sudah lama ditunggu-tunggu. Hadirnya bangunan mewah, mal-mal, hingga perumahan elit hanyalah sebagai simbol dan sarat akan pencitraan rekayasa namun belum tentu memberikan kenyamana bagi semua penghuninya. Watak cerdas dan penuh etika itu seharusnya menjadi ruh nyata arah pembangunan kedepan. Sesuai dengan salinan argument Immanuel Kant akan dalil moral, Moralitas memiliki nilai moral sejati, karenanya perbuatan harus dikerjakan dengan kewajiban dan kewajiban ini harus kehendak baik dalam dirinya sendiri dengan nilainya melampaui segala hal. Toh, nyatanya semakin banyak orang kaya tidak memberikan jaminan akan kebahagiaan, moral tinggi dan saling toleransi antar masyarakat, tapi pembentukan mental beradab justru akan lebih menjadikan rakyat menjadi paham akan nilai hidup bersama dalam suatu negara. Nilai gotong-royong hanya dimaknai sebagai teori klasik yang sudah kampungan. Seharusnya indonesia kini terpandang mewah dari kerukunan rakyatnya bukan dari materi yang hanya dimilki oleh beberapa elit tunggal. Bukankah ide Plato akan sebuah republik yang menggunakan kata polis itu untuk mencapai keteraturan masyarakat. Sudah saatnya bangsa bergerak kearah World After Material (Money).